TVKUINDO – 085702211118

Cuma Chairul Tanjung Yang Mau Beli Antv N TVONE

Posted on: April 14, 2013

Image

BILA tidak ada halangan, Chairul Tanjung sebentar lagi bakal menjadi salah satu raja media televisi di Indonesia. Itu lantaran, ia tinggal selangkah lagi menguasai PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang mengoperasikan tvOne, ANTV, dan Viva.co.id.

Informasi terakhir, Chairul Tanjung alias CT sudah menyiapkan dana sebesar US$ 1,8 miliar atau Rp 17,5 triliun. “Hanya kami (pembeli) yang bisa membayar tunai seratus persen, tapi kesepakatan itu belum selesai,” ujar CT, seperti dikutip Reuters.com.

CT, pemilik CT Corp akan membeli VIVA seorang diri dengan dana cash. “Kami adalah salah satu penawar yang diutamakan. Proposal kami adalah, kami ingin membeli semuanya, saku saya masih dalam,” kata CT.

Belum diperoleh informasi kesepakatan apa yang belum dicapai antara keluarga Bakrie—pemilik VIVA—dengan CT. Upaya InilahREVIEW mewawancarai CT agak kesulitan. CT yang ditunggu di markas Trans TV, Jalan Tendean, Jakarta Selatan, sejak Rabu dan Kamis pekan lalu, selalu tak muncul. Hari Jumat (12/4) sore dicoba mendatangi kantor pusat Bank Mega, namun diperoleh informasi CT sedang berada di Makassar.

Komisaris Utama VIVA, Anindya Novyan Bakrie, membenarkan bahwa CT salah satu taipan media yang mengajukan penawaran untuk membeli perusahaannya. Namun, dengan kalimat diplomatis Anindya mengatakan, bagi perusahaan publik seperti VIVA, pembelian dan penjualan saham sudah biasa dilakukan di pasar modal.

“Kalau namanya perusahaan terbuka, setiap hari kan orang jual beli (saham), itu hal biasa. Setiap hari ada,” ujar Anindya, Senin pekan lalu.

Pimpinan Grup Bakrie, Aburizal Bakrie dalam wawancara dengan Financial Times awal April lalu memberi sinyal penjualan VIVA. “Apapun dijual asal harganya cocok,” kata Aburizal sambil tersenyum.

Semula Bakrie dikabarkan melepas harga US$ 1,2 miliar, kemudian naik menjadi US$ 2 miliar. Namun, sumber-sumber terpercaya membisikan bahwa VIVA akhirnya dibanderol di angka US$ 1,8 miliar. Angka inilah yang sudah disiapkan CT untuk memboyong VIVA masuk dalam kandang CT Corp Trans Media Group.

PERUSAHAAN UNTUNG

Sejak beberapa bulan lalu, penjualan VIVA menjadi isu yang cukup hangat. Sejak itu pula beredar kabar bahwa beberapa taipan media mengajukan penawaran kepada Bakrie. Sebut saja Hary Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group atau Sariaatmadja yang memiliki SCTV dan Indosiar. Dua pengusaha media ini begitu tertarik membeli VIVA.

Namun, entah kenapa belakangan Hary dan Sariaatmadja mundur. Hanya saja yang sempat didengar Hary, Bakrie batal menjual VIVA.

Hary adalah yang paling bernafsu untuk membeli saham VIVA. Pemilik MNC Group, yang mengendalikan puluhan televisi ini, kabarnya beberapa kali sempat menawar harga kepada Bakrie. “Sebagai orang media, kalau misalnya medianya bagus, ada willing buyer willing seller ya tidak apa-apa,” ujarnya.

Tak hanya Hary dan Sariaatmadja yang kepincut dengan VIVA. Kompas Gramedia Group juga sempat ditawari untuk membeli saham tersebut. “Kami pernah ditawari. Namun, harganya memang kemahalan,” kata Agung Adiprasetyo, Chief Executive Officer (CEO) Kompas Gramedia Group kepada Kompas.com beberapa waktu lalu. “Biarlah Pak Chairul Tanjung yang membeli.”

Bakrie dikabarkan ingin menjual VIVA untuk mendapatkan dana segar dalam rangka pembelian kembali saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ada di Bumi Plc. Maklum, Bakrie ingin ‘bercerai’ dengan Bumi Plc karena kerap berselisih dengan Nathaniel Rothschild, salah satu pemegang saham perusahaan yang tercatat di bursa efek London tersebut.

Dalam skema perceraian itu, Grup Bakrie akan menukar guling 23,8% sahamnya di Bumi Plc dengan 10,3% saham BUMI. Selain itu, mereka juga menawarkan pembelian 18,9% saham BUMI yang dipegang Bumi Plc seharga US$ 278,3 juta. Paling lambat perceraian ini akan terlaksana 30 Mei 2013.

VIVA sendiri termasuk perusahaan yang cukup bersinar di Grup Bakrie. Tahun 2012, VIVA mencatat laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar atau naik 177% dibandingkan laba bersih tahun 2011 senilai Rp 26,26 miliar.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Senin pekan lalu disebutkan, naiknya laba bersih itu karena pendapatan terdongkrak sebesar 25,06% menjadi Rp 1,24 triliun dari tahun sebelumnya Rp 992,63 miliar.

Kalangan analis saham memprediksi, nilai saham VIVA akan semakin bersinar jika perusahaan itu jatuh ke pelukan CT. “Teknikal tren naik, bergerak dari level support. Mencoba resistance di Rp 730. Kalau akuisisi terjadi bisa menembus Rp 1.000,” ujar Probo Sujono, analis Milenium Danatama Sekuritas.

Bila VIVA jatuh ke tangan CT, ini akan menambah dua stasiun televisi yang sebelumnya dimiliki CT Corp (Trans TV dan Trans 7). Saat ini, Trans TV memiliki pangsa pasar sebesar 12% hingga 13% dan Trans7 memiliki pangsa sebesar 11%.

Ishadi SK salah satu petinggi CT Corp pernah mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha menjadi pemimpin pasar industri pertelevisian nasional. “Kami bekerja keras untuk menjadi pemain nomor satu di pasar TV Tanah Air,” ujarnya.

Sebelumnya, tanggal 3 Agustus 2011, CT juga sudah membeli detik.com (PT Agranet Multicitra Siberkom/Agrakom) senilai US$ 60 juta atau Rp 521 miliar.

BANGUN TRANS STUDIO

Awalnya, CT Corp bernama PT Para Inti Investindo. Kelompok usaha ini memang fokus di bidang media, gaya hidup, dan bisnis hiburan. Unit pertama bisnis media CT Corp adalah Trans TV yang mengudara pada 10 November 2001.

Hanya dalam waktu tiga tahun, Trans TV telah berkembang menjadi televisi yang disegani. Namun, saat itu mereka harus melawan dominasi televisi yang sudah lahir dan besar lebih dahulu, seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar.

Untuk melawan dominasi ini, awal Agustus 2006 CT membeli 49% saham TV7 dari tangan Kompas Gramedia Group. TV7 kemudian berubah nama menjadi Trans7. Dari sinilah CT melakukan konsolidasi dua stasiun televisi ini untuk menghadapi pemain lama. Mereka mengambil strategi dengan memilih pasar yang belum tergarap dengan baik, yakni segmen A, B, dan C.

Strategi ini ternyata sangat jitu. Tayangan nonsinetron dan lebih banyak menyajikan komedi, termasuk sajian budaya dan petualangan seperti program Jelajah dan Jejak Petualang, ternyata digemari masyarakat.

Untuk melengkapi bisnis media dan hiburan, CT menggandeng Kalla Group membangun Trans Studio di Makassar dengan investasi tahap awal Rp 1 triliun. Dengan nama Trans Studio Theme Park, wahana ini berlokasi di kawasan Tanjung Bunga, dekat Pantai Losari, Makassar. Studio yang memiliki lahan 24 hektar ini mulai beroperasi pada 9 September 2009.

Sukses di Makassar, ia berekspansi ke Bandung. Di kota kembang tersebut, Trans Studio berdiri di lahan kurang lebih 4 hektar di Jalan Gatot Subroto, Bandung. Di lokasi yang sama, CT juga membangun Hotel Trans dan Ibis Hotel berkapasitas 1.000 kamar.

Untuk membangun Trans Studio di Bandung, CT harus merogoh kocek sekitar Rp 2 triliun. Itu di luar ongkos akuisisi tanah. Selain Bandung, Trans Studio juga akan membangun 20 wahana lain seperti di Solo, Palembang, dan di Jakarta.

Ishadi pernah mengatakan, dalam kurun empat hingga lima tahun ke depan pihaknya akan membangun sebanyak 20 Trans Studio. Khusus Trans Studio Jakarta, CT Corp akan membuat dua macam theme park, yaitu versi Trans dan versi Marvel. Nantinya pusat hiburan bermain dan rekreasi tersebut akan ada di dalam satu kawasan kota mandiri yang diberi nama Trans City.

CT mengatakan, Trans City akan dibangun di lahan seluas 120 hektar dengan investasi sekitar US$ 2 miliar. Selain Trans Studio, di Trans City tersebut kelak akan hadir studio televisi, pusat belanja, hotel, perkantoran, dan perumahan.

CT tak berhenti hanya di sini. Ekspansi bisnisnya merambah ke mana-mana. Mulai dari konsumer sampai pesawat terbang. Dan, setelah mencaplok VIVA, CT akan membeli perusahaan apa lagi?

Begitulah CT. Bisnisnya makin munjung. Ia terus membangun dan terus membeli. Tapi, dari mana duit CT?

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-33 Tahun II, yang terbit Senin, 15 April 2013. [tjs]

sumber inilah.com

Mau lihat Spek Trendsat HD T5+, klik disini gan

openbox x5

stok Openbo x5 pemesanan hubungi nomer 083 866 840 325

About these ads

3 Tanggapan to "Cuma Chairul Tanjung Yang Mau Beli Antv N TVONE"

ada kemungkinan ngga garuda sebagai pay tv nyaa CT?

bukan, saya juga bingung kalau antv dan tvone dijual berarti kemungkinan viva sky akan menjadi milik chairul tanjung, tapi kemarin saya baca bakrie berencana beli telkomvision….. ehm..

yg kaya bertambah kaya,yg miskin bertambah miskin. Tapi harta ga dibwa mati…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pemilik Blog >>> www.mcaziz.com


  • jodin: Gan samsung bigtv hd open system gak, pengalaman to***tv gak topup yg fta juga gak bisa kebuka, dan bisa cband juga gak? Trims
  • rian: saya dah pakai receiver indonesia network jogja tv surabaya tv semarang tv dll hilang. gimana solusinya mohon pencerahan.
  • rian: Saya dah pakai receiver indonesia netwek jogja tv, semarang tv dll hilang giman solusinya

Layanan Pembelian Produk TVKUINDO via Telpon & SMS

untuk pesan produk sms nama dan alamat lengkap ke sms, wa, line 08570 22 11118 / 081 22 11 11 892 / pin bbm 219f955d
08.00 WIB hingga 20.00 WIB
Buka Setiap Hari, Hari Libur Tetap Buka

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.946 pengikut lainnya.

Follow TVKUINDO – 085702211118 on WordPress.com

Kunjungi juga web tvkuindo yang lain

klik http://tvkuindo-parabola.com ------

klik http://mcaziz.com -------

klik http://penjualparabola.com -----

Klik http://tvkuindo.mywapblog.com/ -----

Klik http://tvkuindo.blogspot.com/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.946 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: